Halaman

Total Tayangan Halaman

Selasa, 10 Juli 2012

BELENGGU SINGAPORE PENGARUHI MASA DEPAN KEMAJUAN SABANG INDONESIA




Singapore adalah negara pulau kota yang sangat kecil. Luasnya hanya sekitar 713 km2 dengan penduduk 5.1 juta jiwa. Only the lilte dot in asean, Tapi ekspor Singapore pada tahun 2011 sudah hampir US$ 400 milyar/tahun atau dua kali lipat ekspor Indonesia yang hanya US$ 203 Milyar/tahun pada 2011 yang lalu. Singapore adalah negara kecil yang tidak punya kekayaan alam. Tetapi bisa melakukan ekspor dua kali lipat dari Indonesia. Hebat bukan?

Di kota Singapore yang super mini itu kini ada 6000 perusahan AS dan Eropa, 3000 perusahan China, 1500 perusahaan India, dan sebagainya. Mendirikan perusahaan di Singapore sangatlah gampang. pengurusan izin usaha disana hanya membutuhkan waktu dalam 2 jam dapat selesai.

Tidak seperti di Indonesia yang berbulan-bulan tak jelas, apalagi jika status perusahaannya adalah perusahaan asing (PMA). Kekuatan Singapore terletak pada sumber daya manusianya yang unggul dan kepastian hukumnya yang hebat. Bisnis sangat kondusif disana.

Singapore adalah pusat keuangan Asia, pusat industri manufaktur termasuk minyak, kimia, logam dll. Semua bahan baku di impor, Bahkan air tawar-pun Singapore harus mengimpor dari Malaysia, sayur-sayuran sebagian besar di impor dari Indonesia, serta kebutuhan pokok lainnya dari Malaysia dan Thailand.

Jumlah turis yang datang ke Singapore sekitar 13.5 juta orang per-tahun, dua kali lipat turis yang datang ke Indonesia. Padahal tak ada yang bisa dilihat di Singapore kecuali hanya untuk Shopping. Singapore yang habis dikelilingi hanya dalam 6-7 jam itu memang tidak menarik sama sekali, tetapi turis-turis ramai berdatangan kesana untuk shopping, berjudi dan deal bisnis.

Sebagai kota pusat keuangan dan perdagangan di Asia, Singapore tahu prioritas utama mereka adalah SDM yang handal dan kepastian hukum, semua taat hukum disana. Ancaman terbesar bagi Singapore adalah Indonesia dan Malaysia. Namun Malaysia tidak begitu ditakuti Singapore karena ada hubungan historis, lantaran sebelumnya Singapore adalah bagian dari Malaysia.

Indonesia dinilai sebagai ancaman nasional bagi Singapore terkait dua hal yaitu, ancaman militer dan ekonomi. Untuk menghadapinya, Singapore akan memperlemah peran Indonesia di kawasan Asia. Pada zaman Presiden Soekarno, Indonesia telah menjadi mimpi buruk bagi Singapore, di era rezim Soeharto, Singapore justru merasa aman karena Soeharto adalah mentornya Lee Kwan Yew. Soeharto Toako Abang.

Ketika Soeharto jatuh dan BJ Habibie naik jadi Presiden Indonesia, Lee Kwan Yew sempat sangat panik. Dia segera menemui Habibie untuk membangun komitmen baru Singapore-Indonesia, tetapi Habibie menolaknya, alasan Habibie Indonesia pasti akan dirugikan oleh Singapore. Apalagi Presiden Habibie punya mimpi untuk segera mengembangkan Sabang-Aceh, Batam dan Bintan yang akan mampu mengalahkan pusat bisnis Singapore.

Dimata Habibie, Singapore tidak ada apa-apanya dan sangat mudah ekonominya dikalahkan oleh Indonesia, Habibie juga sangat geram dan marah pada Singapore yang selama ini dinilainya telah “menghancurkan ekonomi Indonesia” secara perlahan namun sistematis. Lee Kwan Yew pun meradang atas sikap Habibie itu.

Lee Kwan Yew dipastikan punya andil dalam kejatuhan Presiden Habibie melalui penolakan laporan pertanggungjawaban Presiden di MPR waktu itu. Setidaknya diduga Lee Kwan Yew membantu uang dan opini. Lee Kwan Yew lebih senang dengan SBY, karena agenda SBY adalah agenda barat yang jadi sekutu utama Singapore.

Ekonomi Singapore tentu akan lebih aman, oleh sebab itu Singapore berkepentingan pada pemerintahan SBY agar tetap bisa langgeng. Dan siapapun penggantinya nanti harus dipastikan dapat menguntungkan bagi Singapore. Ical pun kabarnya telah menghadap kesana.

Sistem ekonomi Indonesia memang salah kaprah membuat posisi Indonesia mudah sekali disetir oleh Singapore. Seorang bankir di Singapore pernah mengatakan, untuk menggoyang ekonomi Indonesia sebenarnya tak terlalu sulit, Singapore cukup memainkan US$ 500 juta sampai US$ 2 milyar di pasar uang/modal, dipastikan bursa saham milik Indonesia akan jungkir balik yang akan berujung terjadinya krisis ekonomi.

Singapore bisa “goreng-goreng″ saham atau rupiah. Untuk kepentingan politik dan “insurance”, Singapore memiliki cadangan uang rupiah milik Indonesia dalam jumlah triliunan yang setiap saat bisa dijadikan sebagai senjata untuk “menggoyang” ekonomi Indonesia.

Indonesia yang selama ini yang mendewakan sektor monoter (bukan sektor riel) sangat tergantung pada indeks / kurs yang menjadi kelemahan besar bagi ketahanan ekonomi nasional. Cadangan devisa Indonesia memang sudah tembus US$ 100 milyar. Tetapi itu hanya cukup untuk biaya 3,5 bulan impor.

Rentan sekali bila digoyang oleh Singapore, ketergantungan Indonesia terhadap barang konsumsi eks-Singapore termasuk BBM, telah membuat Indonesia seperti sebuah pesawat TV raksasa tetapi Singapore-lah sebagai pemegang remote controlnya. Singapore memang tidak dapat secara langsung “menghancurkan” ketahanan ekonomi Indonesia (moneter, pangan, energy, dll) tetapi mereka akan melakukannya melalui tangan lembaga-lembaga keuangan internasional.

Agenda-agenda jahat Singapore diduga “dititipkan” melalui tangan-tangan seperti ADB, WB, IMF, USA yang ditandatangani Indonesia tak lepas dari kepentingan agenda Singapore. Kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia seperti kelonggaran ekspor bahan baku, pajak yang rendah atas CPO, batubara, dan seterusnya adalah agendanya Singapore.

Uang besar dan lobi-lobi Singapore akan masuk ke Indonesia jika saja Indonesia mau setujui lokalilasi untuk membangun pusat perjudian di Batam. Pariwisata dan judi memang terkait erat. Keduanya punya kontribusi 7% terhadap GDP Singapore dan akan meningkat menjadi 15% pada tahun 2020 mendatang, diperkirakan ekonomi Indonesia akan mendapat ancaman yang serius dari Singapore pada tahun itu.

WNI keturunan Tionghoa, konglomerat-konglomerat termasuk yang pribumi, bahkan pejabat-pejabat tinggi kita banyak juga yang hobi berjudi datang ke Singapore. Mereka telah menjadi klien-klien tetap beberapa Casino di Singapore.

Singapore dengan cara yang canggih akan tetap mempertahankan dan memanfaatkan kerapuhan ekonomi Indonesia. Jika ekonomi lemah, militer Indonesia pun dipastikan akan melemah juga, lantaran Indonesia tak punya anggaran untuk melakukan modernisasi peralatan perangnya.

Singapore juga ditunding sebagai “donatur” teroris-teroris di Indonesia, Malaysia dan Philipina. Melalui strategi intelejen deception, uang itu mengalir ke teroris. Organisasi teroris-teroris Islam garis keras itu “diperhatikan, diamati dan dibina” oleh intelejen Singapore.

Suatu saat nanti mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan Singapore. Tujuannya hanya satu, menciptakan instabilitas Indonesia jika diperlukan pada saatnya nanti. Inilah bagian dari pelemahan ekonomi Indonesia, Sebab itu tidak heran, dalam jaringan terorisme Indonesia selalu ada keterlibatan “teroris” berwarga negara Singapore.

Sekarang Indonesia memang belum menjadi ancaman bagi Singapore. Tapi jika Indonesia nekad ingin segera mengembangkan pulau Sabang, Batam, Bitung dan Bintan, pastilah Singapore akan bereaksi dan meradang. Mereka akan hantam ekonomi Indonesia,

Demikian juga jika Indonesia berani men-stop ekspor bahan baku seperti CPO, karet, batubara, mineral, dll atau mau naikan pajak ekspornya secara ekstrim, membubarkan Petral, membangun kilang minyak dan produk turunannya sendiri, membangun storage dst. Singapore dipastikan akan bereaksi terhadap Indonesia.

Singkatnya, Singapore akan menggunakan segala cara agar negaranya tetap mampu bertahan menjadi Hub, Trader dan Broker ekonomi dunia terutama dikawasan Asia. Sementara arah pembangunan dan kebijakan Indonesia tidak dibolehkan membahayakan kepentingan nasional Singapore. Indonesia harus tetap terus menjadi tiang penyangga bagi kemajuan ekonomi Singapore.

Singapore kini juga menjadi surga bagi para koruptor Indonesia yang buron atau yang simpan uang disana, baik legal ataupun tak legal, langsung ataupun via transfer pricing, Selain kekayaan para koruptor, buronan, konglomerat Indonesia yang rata-rata US$ 8 milyar masuk ke Singapore per tahunnya, posisi ini akan menguntungkan ekonomi Singapore.

Para koruptor buronan Indonesia, meski sudah buron, tetapi tetap aman dan nyaman menjalankan bisnisnya di Indonesia lewat kaki tangannya. Mereka di back up penuh oleh Singapore, bahkan banyak uang haram hasil korupsi di Indonesia yang disimpan di bank-bank Singapore kemudian kembali lagi ke Indonesia dalam bentuk investasi asing alias PMA.

Agar tidak menyolok dan menimbulkan kecurigaan, PMA itu bisa berbaju USA, Eropa, China dll. Padahal itu sesungguhnya berasal dari Singapore. Intinya, Singapore itu punya kebijakan khusus terhadap Indonesia demi menjaga kepentingan nasional negara super mini mereka yaitu negara yang lebih kecil dibandingkan kota Jakarta.

Itulah potret negera Singapore yang maju dan menjadi negara termakmur ke 4 di dunia. Pemimpinnya amanah, keras dan cerdas, Bapak Singapore tahu persis, negaranya hanya bisa maju jika tercipta budaya hukum ditengah-tengah rakyatnya. budaya hukum timbul dari patuh hukum, Patuh hukum tercipta karena rakyatnya takut melanggar hukum. Takut langgar hukum karena sanksi hukumnya sangat keras, tegas dan adil.

Dulu Singapore adalah wilayah kecil yang kumuh, jorong, sarang mafia, penjahat dan kriminal. Kini semua ditertibkan oleh Lee Kwan Yew dengan penegakan hukum yang keras, Setiap pelanggar hukum diganjar seberat-beratnya. Banyak juga yang dihukum mati disana dan disiarkan di media-media massa secara berulang-ulang, terus menerus agar rakyatnya takut.

Rakyat Singapore menyaksikan setiap saat di televisi bagaimana penjahat dihukum, mereka tahu akibatnya jika mereka melanggar hukum di negara itu. Begitulah negara yang bernama Singapore yang ibarat sebuah titik lalat di tubuh kita. Malaysia, Korea, Taiwan dll, semua maju karena sukses dalam penegakan hukum.

Sabtu, 05 Mei 2012

10 Penyakit Mental Manusia




1. Menyalahkan orang lain
Itu penyakit P dan K, yaitu Primitif dan Kekanak-kanakan.


Primitif. Menyalahkan orang lain adalah pola pikir orang primitif. Di pedalaman Afrika, kalau ada orang yang sakit, yang Dipikirkan adalah: "Siapa nih yang nyantet?" Selalu "siapa", Bukan "apa" penyebabnya. Bidang kedokteran modern selalu mencari tahu "apa" sebabnya, bukan "siapa". Jadi kalau kita berpikir menyalahkan orang lain, itu sama dengan sikap primitif. Pakai koteka aja deh, nggak usah pakai dasi dan jas.


Kekanak-kanakan. Kenapa? Anak-anak selalu nggak pernah mau disalahkan. Kalau ada piring yang jatuh, "Adik tuh yang salah", atau, "Mbak tuh yang salah". Anda pakai celana monyet aja kalau bersikap begitu. Kalau kita manusia yang berakal dan dewasa selalu akan mencari sebab terjadinya sesuatu.


2. Menyalahkan diri sendiri
Menyalahkan diri sendiri bahwa dirinya merasa tidak mampu. Ini berbeda dengan mengakui kesalahan. Anda pernah mengalaminya? Kalau anda bilang tidak pernah, berarti anda bohong. "Ah, dia sih bisa, dia ahli, dia punya jabatan, dia berbakat, dan sebagainya, Lha, saya ini apa ?, wah saya nggak bisa deh. Dia S3, lha, saya SMP, wah nggak bisa deh. Dia punya waktu banyak, saya sibuk, pasti nggak bisa deh". Penyakit ini seperti kanker, tambah besar, besar di dalam mental diri sehingga bisa mencapai "improper guilty feeling".


Jadi walau yang salah partner, anak buah, atau bahkan atasan, berani bilang, "Saya kok yang memang salah, tidak mampu, dan sebagainya". Penyakit ini pelan-pelan bisa membunuh kita. Merasa inferior, kita tidak punya kemampuan. Kita sering membandingkan keberhasilan orang lain dengan kekurangan kita, sehingga keberhasilan orang lain dianggap Wajar karena mereka punya sesuatu lebih yang kita tidak punya.


3. Tidak punya goal atau cita-cita
Kita sering terpaku dengan kesibukan kerja, tetapi arahnya tidak jelas. Sebaiknya kita selalu mempunyai target kerja dengan milestone. Buat target jangka panjang dan jangka pendek secara tertulis. Ilustrasinya kayak gini: Ada anjing jago lari yang sombong. "Apa sih yang nggak bisa saya kejar, kuda aja kalah sama saya". Kemudian ada kelinci lompat-lompat, kiclik, kiclik, kiclik. Temannya bilang, "Nah tuh ada kelinci, kejar aja". Dia kejar itu kelinci, wesss...., kelinci lari lebih kencang, anjingnya ngotot ngejar dan kelinci lari sipat-kuping (sampai nggak dengar / peduli apa-apa), dan akhirnya nggak terkejar, kelinci masuk pagar. Anjing kembali lagi ke temannya dan diketawain. "Ah, lu, katanya jago lari, sama kelinci aja nggak bisa kejar. Katanya lu paling kencang". "Lha dia goalnya untuk tetap hidup sih, survive, lha gua goalnya untuk fun aja sih". Kalau "GOAL" kita hanya untuk "FUN", isi waktu aja, ya hasilnya cuma terengah-engah saja.


4. Mempunyai "goal", tapi ngawur mencapainya
Biasanya dialami oleh orang yang tidak "teachable". Goalnya salah, focus kita juga salah, jalannya juga salah, arahnya juga salah. Ilustrasinya kayak gini : ada pemuda yang terobsesi dengan emas, karena pengaruh tradisi yang mendewakan emas. Pemuda ini pergi ke pertokoan dan mengisi karungnya dengan emas dan seenaknya ngeloyor pergi. Tentu saja ditangkap polisi dan ditanya. Jawabnya, "Pokoknya saya mau emas, saya nggak mau lihat kiri-kanan".


5. Mengambil jalan pintas (shortcut)
Keberhasilan tidak pernah dilalui dengan jalan pintas. Jalan pintas tidak membawa orang ke kesuksesan yang sebenarnya, karena tidak mengikuti proses. Kalau kita menghindari proses, ya nggak matang, kalaupun matang ya dikarbit. Jadi, tidak ada tuh jalan pintas. Pemain bulutangkis Indonesia bangun jam 5 pagi, lari keliling Senayan, melakukan smash 1000 kali. Itu bukan jalan pintas. Nggak ada orang yang leha-leha tiap hari pakai sarung, terus tiba- tiba jadi juara bulu tangkis. Nggak ada! Kalau anda disuruh taruh uang 1 juta, dalam 3 minggu jadi 3 juta, masuk akal nggak tuh? Nggak mungkin!. Karena hal itu melawan kodrat.


6. Mengambil jalan terlalu panjang, terlalu santai
Analoginya begini: Pesawat terbang untuk bisa take-off, harus mempunyai kecepatan minimum. Pesawat Boeing 737, untuk dapat take- off, memerlukan kecepatan minimum 300 km/jam. Kalau kecepatan dia cuma 50 km/jam, ya Cuma ngabis-ngabisin avtur aja, muter-muter aja. Lha, kalau jalannya runwaynya lurus anda cuma pakai kecepatan 50 km/jam, ya nggak bisa take-off, malah nyungsep iya. Iya kan?


7. Mengabaikan hal-hal kecil
Dia maunya yang besar-besar, yang heboh, tapi yang kecil-kecil nggak dikerjain. Dia lupa bahwa struktur bangunan yang besar, pasti ada komponen yang kecilnya. Maunya yang hebat aja. Mengabaikan hal kecil aja nggak boleh, apalagi mengabaikan orang kecil.


8. Terlalu cepat menyerah
Jangan berhenti kerja pada masa percobaan 3 bulan. Bukan mengawali dengan yang salah yang bikin orang gagal, tetapi berhenti pada tempat yang salah. Mengawali dengan salah bisa diperbaiki, tetapi berhenti di tempat yang salah repot sekali.


9. Bayang-bayang masa lalu
Wah, puitis sekali, saya suka sekali dengan yang ini. Karena apa? Kita selalu penuh memori kan? Apa yang kita lakukan, masuk memori kita, minimal sebagai pertimbangan kita untuk langkah kita berikutnya. Apalagi kalau kita pernah gagal, nggak berani untuk mencoba lagi. Ini bisa balik lagi ke penyakit nomer-3. Kegagalan sebagai akibat bayang-bayang masa lalu yang tidak terselesaikan dengan semestinya. Itu bayang-bayang negatif. Memori kita kadang- kadang sangat membatasi kita untuk maju ke depan. Kita kadang-kadang lupa bahwa hidup itu maju terus. "Waktu" itu maju kan?. Ada nggak yang punya jam yang jalannya terbalik? Nggak ada kan? Semuanya maju, hidup itu maju. Lari aja ke depan, kalaupun harus jatuh, pasti ke depan kok. Orang yang berhasil, pasti pernah gagal. Itu memori negatif yang menghalangi kesuksesan.

10. Menghipnotis diri dengan kesuksesan semu
Biasa disebut Pseudo Success Syndrome. Kita dihipnotis dengan itu. Kita kalau pernah berhasil dengan sukses kecil, terus berhenti, nggak kemana-mana lagi. Sudah puas dengan sukses kecil tersebut. Napoleon pernah menyatakan, "Saat yang paling berbahaya datang bersama dengan kemenangan yang besar". Itu saat yang paling berbahaya, karena orang lengah, mabuk kemenangan. Jangan terjebak dengan goal-goal hasil yang kecil, karena kita akan menembak sasaran yang besar, goal yang jauh. Jangan berpuas diri, ntar jadi sombong, terus takabur

Sabtu, 28 April 2012

TIPS : Membuat Surat Rekomendasi


cover letter Membuat Surat Rekomendasi
Surat rekomendasi adalah surat yang dikeluarkan dosen, dekan, atasan, pimpinan proyek, dan lainnya, yang isinya menerangkan kesan atau evaluasi selama kita bekerja dengan mereka.

Untuk mendaftar beasiswa, surat ini adalah hal yang wajib. Untuk kasus Amerika, mereka akan meminta 2-3 (biasanya 3) buah dari dosen atau atasan bagi yang sudah bekerja.

Surat rekomendasi bisa dibuat dalam format bebas, atau menurut format yang sudah ditetapkan oleh universitas yang akan didaftar.  Surat yang dibuat dengan format dari universitas bisa langsung dikirim on line. Dosen atau bos tinggal mengisi form yang sudah disediakan dan langsung klik kirim via internet.

Namun untuk fleksibilitas, surat rekomendasi format bebas akan lebih disukai. Apalagi kalo berencana mendaftar lebih dari satu sekolah. Daripada pak dosen bolak-balik ngisi form, mending bikin surat sendiri kemudian diperbanyak sesuai kebutuhan.
Isi surat rekomendasi format bebas setidaknya harus mencakup:
1. Posisi dari pemberi rekomendasi (dosen, pembimbing skripsi, atasan, manajer)
2. Lama pemberi rekomendasi mengenal kita
3. Kualifikasi/kelebihan-kelebihan kita, terutama yang menonjol
4. Garansi bahwa kita bisa menyelesaikan kuliah dengan baik
5. Manfaat kita bersekolah untuk masyarakat atau perusahaan
6. Pastikan tercantum kata “Highly Recomended to..”
7. Tanda tangan, kontak, dan posisi/jabatan

Karena dosen atau bos orang sibuk, tanyakan apa perlu kita membuat draft terlebih dahulu. Ini akan meringankan sekaligus menghemat waktu daripada menunggu mereka meluangkan waktu untuk membuatnya. Setelah draft dikembalikan kita tinggal mengganti poin-poin yang perlu diubah.
Jangan lupa bertanya ke kantor TU siapa tahu mereka sudah punya format baku. Ini akan semakin mempermudah semua proses.
Terakhir, jangan lupa mengirim ucapan terima kasih kepada pemberi rekomendasi setelah berhasil.
Berikut adalah contoh-contoh surat rekomendasi:
Contoh 1
Recommending (YOUR NAME), a student of mine for the past two years is a great pleasure for me. I have taught him (NAME OF SUBJECTS) during his third and fourth year. He is one of the sincere, versatile, and brilliant students.
His meticulous, thought provoking nature and ability to do hardwork make him an excellent candidate for research work. His proficiency and dedicated work during lectures and practicals impressed me. He is punctual and perfectionist about his studies and assignments which place him above all.
His dependable and trustworthy nature, modesty and tactfulness came forward when he was crewmember in our intercollege festival (NAME OF FESTIVAL). As I tried to know more of him, I found that he was selected in (NAME OF SOME EXAM IN SCHOOL DAYS) during his school days.
He has good aptitude and curious mind to be successful in graduate studies. From my heart, I feel he is a worthy candidate for admission to your university. I recommend him with great confidence.
Sincerely,
NAME OF PROF.

Contoh 2
I know (YOUR NAME) for the past two years. He is a sincere and brilliant student. I have taught him subjects of ‘(SUBJECT)’ and ‘(SUBJECT2)’ in which his performance has been superlative. He scored (GOOD %) in ‘(SUBJECT)’ during his semester examination. He is a promising young student with good academic skills and innate talents.
While answering his queries and doubts during lectures, I found that he has penchant for research work. The diligence and intellectual ability, which he displays during practicals, are a clear indication of his research potential. His untiring industry and his scientific methodology make him unique form the rest. He is doing his final year project (‘NAME’), under my guidance. I have seen his dedicated work and inquisitive nature, which he portrayed during this project work.
Apart from his academic career, he is actively involved in extracurricular activities. He was a member in the inter-college festival (NAME OF FESTIVAL). He has also participated in many college functions and seminars.
I am sure, he is a deserving candidate for research work and I sincerely feel, if given a chance (YOUR FIRST NAME) will definitely attain success in his further studies. It gives me great pleasure to recommend him to you.
Sincerely,
NAME OF PROF.

Contoh 3
(YOUR NAME) has been my student for the last two years. I have taught him subjects like (NAME OF SUBJECT1), (NAME OF SUBJECT2′) and (NAME OF SUBJECT3). He is brilliant student who shows spark in his undergraduate studies.
Because of his ability to learn subject from grassroots, I rate him as sincere student. I am confident that his concentration, systematic work and great skills in performing practicals will help him to achieve great success. He is a promising young student with a penchant for learning.
He is zestful and a versatile student. He takes part in many college functions. His courteous and reliable nature shines in intercollege festival (NAME OF FESTIVAL) I appreciate his work during his undergraduate years and with full confidence I recommend him to you.
Sincerely,
NAME OF PROF.



TIPS : Menyiapkan Research Proposal Outline


jmo0635l Menyiapkan Research Proposal OutlineWaktu mendaftar ke sekolah atau untuk mendapatkan beasiswa, biasanya pelamar belum akan diminta membuat usulan riset secara rinci.
Tapi adakalanya, proposal riset ini tetap diminta. Bagian selanjutnya dari artikel ini berisi contoh outline proposal riset, hingga terbentuk bayangan poin-poin apa saja yang mesti diisikan.

I.   INTRODUCTION
A.   General Description of the Area of Concern
B.   Problem to be Studied
C.   Purpose of the Proposed Research Project
D.   Major research questions
E.   Major Research Hypothesis
F.   Minor Hypotheses Stating Relationships:
G.   Significance of the problem and the justification for investigating it
H.   Feasibility of doing the proposed study
II.    REVIEW OF LITERATURE
A.    Historical background
B.    Theory Relevant to the Major Research Question
C.    Current Literature
III.    METHODOLOGY
A.   Restatement of Major of General Hypothesis
B.    Research Design (Groups to be compared)
C.    Draft Schematic Drawing of Research Design: in order to better understand and conceptualize your research  project, draw a simple design circles or squares or arrows.
D.    General Characteristic of the Study Population
E.    Location or Setting in Which the Study Takes Place (Indicate where respondents were when you collected data from them). The Geographic Dimensions of Study Population.
F.    Calendar Table of Events in Carrying Out Study
G.    Sampling Design and Procedures
H.    Data Collection Schedule (Questionnaire). List of variables to be measured and identify level of measurement.
I.     Instruments, Tools for Measuring Variables – Schedules, and Questionnaire (Scales, Check Lists, Rating Devices, Indexes, Observation Procedures, and Ranking). Make an attachment if additional space is needed.
J.     Validity and Reliability
K.    Pre-testing the Data Collection Instruments
L.    Definitions of the Most Important Terms and Concepts Used in the Research Project
M.    Administration of the Data Collection Schedule.  (Letters-Persons-Case-Situation-TV-Tape)
N.    Data Processing Procedures including Computer Procedures and Coding Instructions.
O.    Procedures of Data Analysis: Data Analysis Design to be Used.


Apa itu GRE..?


GRE atau Graduate Record Examinations adalah tes yang wajib diikuti sebelum mendaftar program pasca sarjana di Amerika. GRE diperuntukkan bagi sekolah-sekolah non bisnis, jika tertarik mendaftar sekolah bisnis jenis tes yang mesti diikuti adalah GMAT.
Saya menduga, tes ini diperlukan untuk mengkuantifikasi kemampuan akademik para pelamar dalam standar yang sama.

Pelamar yang ingin sekolah ke Amerika berasal dari segala penjuru dunia, dengan sistem pendidikan dan penilaian yang berbeda. IP 3 di Indonesia belum tentu berbobot sama dengan di Cina, ini pun dengan asumsi Cina menggunakan cara penilaian yang sama dengan kita.
GRE terdiri atas tiga bagian: verbal, quantitative, dan analytical writing.  Nilai maksimal untuk verbal dan quantitative adalah 800, sedang analytical writing diberi nilai maksimal 6. Untuk mahasiswa Indonesia, bagian quantitative (matematika) biasanya tidak terlalu menjadi masalah. Soal-soal yang diberikan memiliki tingkat kesulitan hampir sama dengan matematika dasar waktu SPMB/UMPTN dulu. Asal berlatih dan memahami istilah-istilah matematika dalam bahasa Inggris, soal bisa dilibas habis.
Bagian verbal ini yang lebih menantang. Kesulitan umum bagi kita yang bukan penutur Inggris terutama pada penguasaan vocabulary. Jangan bayangkan vocab pasaran yang akan keluar dalam tes, melainkan kata-kata yang mungkin kita baru tahu saat itu. Belum lagi struktur kalimat soal yang dibuat rada memutar hingga memerlukan tambahan waktu untuk memahami maksud soal tersebut.
Sebagai perbandingan, orang yang bertutur Inggris sekalipun normalnya akan mendapatkan nilai verbal lebih rendah dibanding nilai quantitative. Bagaimana dengan kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia atau malah bahasa Jawa?
Tapi ini bukan menakut-nakuti lho. Moral kisah ini berarti perlu usaha lebih keras dan strategi khusus untuk menaklukkan tes bagian verbal. Sudah banyak tersedia buku-buku latihan GRE yang berisi latihan soal sekaligus contoh-contoh strategi yang bisa diterapkan. Yang penting, investasikan waktu secara cukup dan konsisten.
Bagian terakhir GRE adalah analytical writing. Di bagian ini peserta akan diberi satu kasus, dan berdasar kasus itu peserta diminta menuliskan tanggapan dan argumennya. Respon dari kasus bisa setuju ataupun tidak, yang penting argumen yang disusun mesti sistematis dan meyakinkan.
Waktu yang diberikan untuk mengerjakan tes tentu saja terbatas. Akan sangat membantu jika sebelum tes kita melakukan simulasi dengan mengerjakan soal dalam kerangka waktu tes sungguhan. Ini akan memberikan sense bagaimana cara membagi waktu dalam pengerjaan nantinya. Jangan pernah terpaku mengerjakan satu soal sulit, karena bobot soal sulit dan mudah tidak dibedakan.
Satu lagi yang penting, tes ini berformat komputer. Artinya, peserta tidak akan diberi lembar soal dan lembar jawaban. Peserta mesti membaca soal dan memberikan jawaban langsung di layar komputer. Bagi yang tidak terbiasa ini bisa menimbulkan kesulitan tersendiri. Satu lagi kelemahan tes berformat komputer, peserta mesti menjawab soal secara urut. Soal yang dianggap sulit tidak bisa dilompati untuk kemudian dikerjakan ulang nanti. Ini menjadi semakin membuat penting manajemen waktu. Jangan berlama-lama memelototi satu soal, jika sudah punya 2-3 alternatif jawaban, segera tembak salah satu.

TIPS : Menulis Statement of Purpose (SOP)


Statement of Purpose (SOP) biasanya memiliki panjang 1-2 halaman. Isinya terutama menerangkan tujuan ingin melanjutkan sekolah ke jurusan dan universitas yang kita tuju.
Menurlis SOP merupakan salah satu persyaratan untuk mendaftar sekolah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mulai menulis sebuah SOP.

1. Menentukan Tujuan

Tujuan SOP adalah untuk meyakinkan komite profesor bahwa kita adalah pelamar yang layak dipilih. Cara membuat mereka yakin yaitu dengan menunjukkan kemampuan dan motivasi bahwa kita bisa sukses di bidang yang dipilih. Tujuan ini mesti tertulis jelas dalam SOP.
2. Membuat Isi SOP
Biasanya SOP dibuat dalam format bebas, tapi dalam kasus tertentu mereka telah menyediakan semacam outline atau daftar pertanyaan yang mesti dijawab. Jika ini yang terjadi, pastikan menjawab pertanyaan secara langsung dan lengkap tanpa berbelit-belit.
Isi SOP hendaknya mencakup:
- Tujuan kenapa ingin studi lanjut
- Spesialisasi atau minat yang dipilih
- Manfaat bagi masyarakat atau perusahaan setelah studi lanjut
- Persiapan yang sudah dilakukan (akademik, kegiatan ekstrakulikuler)
- Penjelasan jika ada nilai akademik yang naik-turun (mis: ada nilai jelek di satu semester)
- Hal khusus lain yang belum terungkap di form pendaftaran
- Alasan kenapa tertarik mendaftar ke sekolah bersangkutan

Dan yang paling penting, SOP adalah cara kita memperkenalkan diri pada komite profesor. Pastikan hal yang relevan terungkap semua.
Berikut adalah contoh SOP:
Contoh 1
I suppose if we all knew why we think, feel and act like we do, Psychology wouldn’t even exist. It seems next to impossible, t herefore, to try to describe in detail why I have chosen to be a clinical psychologist. All I can possibly tell you is the sort of experiences I’ve had that demonstrate how interested I am in clinical psychology.
I can’t even remember why I chose to major in psychology, but I knew once I enrolled in Psychology 101 that if I just stayed in psychology, I knew I would never be bored with my education or my career. I soon learned how important it was to get research experience, so I enrolled joined Dr. Sensali’s lab in September, 1999. While there, I was primarily responsible for entering data from a survey we were conducting of students’ attitudes toward different types of teaching styles. One of the things I most appreciated about this experience was that I got to interact with other graduate students, and observe firsthand the stresses and joys of graduate school. I also got my first exposure to SPSS that semester, and I am grateful for that because it gave me a bit of a head start in learning how to use a statistical analysis software.
In January 2000, I enrolled in Abnormal Psychology. Dr. Richmond taught this class, and it was probably his enthusiasm for the subject matter that eventually converted me to the idea of becoming a clinical psychologist. I did well in the course as I did in most of my courses, but the most important thing about that class was that I had to write a research paper on personality disorders as a course requirement. For whatever reason, I was particularly struck by narcissistic personality disorder, and as I spent hours and hours in the library researching this topic, it became clear very quickly that although psychologists know a lot about this and other disorders, more high-quality research is sorely needed. I remember thinking how frustrated I was as I realized that there were gaps in my paper-no one seemed to have explored this question or that question-and I could only imagine how practitioners felt as they tried to do the best they could for their clients but didn’t quite have all the information they needed in order to do so. Good research is crucial to alleviating people’s distress, and I want to be any research that moves toward that goal.
In my final semester of my senior year at XXXXXX, I joined Dr. Raskin’s lab. There, I was able to run married couples through an interview procedure as part of a study on how marital communication is affected by the death of a child. I appreciated Dr. Raskin’s trust in me, even if it was scary at times. Later I also assisted as a data enterer and response coder. On a few occasions, I also participated in data analysis sessions with the graduate students.
Another important experience I had that semester is that I began volunteering for Crisis services. This was not just an eye-opening experience, it was also a real personal challenge for me, as I was basically forced, with minimal training, to somehow establish common-ground with people who were experiencing acute, severe distress. Some of my life’s scariest experiences took place while I volunteered for Crisis services, but it was so uplifting to be able to know I might have made a tiny difference at just the right moment for a handful of people. After this experience, I knew for certain that I would attend graduate school in Clinical Psychology.
Overall I am pleased with my academic record and I believe that it has prepared me very well for graduate school. As you may notice, however, my grades improved over time. I began college as a pre-med major, and as should be evident, most of the “damage” to my GPA occurred in my freshman-year chemistry and physics classes. I learned important things about the philosophy of science in those classes, but as I learned about a year later, my interests were clearly elsewhere (i.e., in working with people).
I assume that my recommenders have adequately addressed my qualifications for your graduate program. I hope you will seriously consider me as a student in your program, because by interest in personality disorders is well-represented by the faculty in your department. I sincerely believe I would make an excellent student in your program, and I am prepared to work and study hard in order to meet the high standards that CWRU is known for. Thank you for your consideration.
Contoh 2
A beluga whale helped me first realize my true academic passion. I spent my high school summers and weekends volunteering at the New York Aquarium, first in the education department, and later in the training department. It was there, through casual and research-oriented observations of cetaceans, that I began to wonder about animal and human minds. I later had the opportunity to participate in an observational research project, helping to record data on the behaviors of new whale calves and mothers. My informal and formal observations fed my interest in the phylogenetic and ontogenetic bases of cognition and language.
As a psychology student at [my school], I had numerous opportunities to research and observe human psychology, both in and out of the classroom. As a sophomore, along with a professor and fellow students in a seminar class, I helped design and run a study on categorization and user’s intentions. Later that year we presented our findings at the annual American Psychological Society meeting. In that same year I also assisted a professor in conducting a study on the effects of familiar and unfamiliar music on reading comprehension.
I spent the summer following my sophomore year (1997) as a research assistant in the [my school] Psychology Department, funded by a grant from the Howard Hughes Foundation. I collaborated with a professor, a fellow undergraduate student, and a visiting high school student to research, design, and run a study on attitudes towards germs and illness. This included conducting an extensive literature review, specifying research questions, and designing questionnaires that would help us effectively answer our research questions. In addition to strengthening my research abilities, this experience gave me the invaluable opportunity to interact with fellow researchers as a student, a peer, and a mentor.
My extracurricular research experience during my sophomore and junior years of college gave me the tools to independently develop and carry out research projects. During my senior year at [my school], I completed a long term library-based research project on the evolution of the human linguistic ability. As a person who tends to look at the big picture when conducting research, this project was the perfect opportunity for me to integrate research from numerous fields and subfields in order to answer a psychologically based question. Through the study of anthropology, paleoneurology, neuropsychology, linguistics, and psycholinguistics, I explored theories debating the neurological and behavioral bases for language evolution. Although I do not envision the study of language evolution as being my main focus in graduate school or beyond, I still hold an interest in the field. As soon as I complete my graduate school applications, I plan to start preparing peer commentary articles on this topic for the on-line journal Psycholoquy.
My current research interests include language acquisition and cognitive development. I would like to study the relationship between language acquisition and the development of other cognitive processes. More specifically, I am interested how the development of metacognition and concepts affects and is effected by semantic and lexical development in toddlers and preschoolers. This research interest has developed over the greater part of the last decade; starting with my observations of behavior development in beluga whales, and shaped by my in depth study of cognition and language as a college undergraduate.
I feel that my research interests fit extremely well with the psychology department at [school I am applying to], and in particular with professors [a professor] and [another professor]. I would be elated to have the opportunity to study in a department where there is such a plethora of researchers who study cognition and development. The breadth of research done at [school I am applying to] would allow me not only to pursue my interests in depth with talented researchers, but would also allow me to eventually pursue some of my secondary interests in other areas of cognitive development. It is because of these fabulous opportunities that [school I am applying to] is my top choice for graduate study.
I am confident that graduate study at [school I am applying to] would prepare me well for my long term career goals. I wish to eventually hold a tenured position at a college or university, where I would have the opportunity to do research and to act as a teacher and mentor to undergraduate and graduate students. My undergraduate experiences at [my school] have fostered my love of and dedication to research, and provided the necessary tools to pursue my goals. I know that the opportunity to study at [school I am applying to] would allow me to grow as a student and researcher, and allow me to make significant contributions to the field of developmental psychology.
Please note that I have replaced identifying information (my undergraduate institution, and school I wrote this essay for) with “[my school]” or “[school I am applying to]“. Also note that the paragraph about my fit with the school was different for each school. And I didn’t say that every school was my first choice… I only told that to the two school that were at the time my top choices. (I couldn’t decide between the two, so I felt justified in telling both of them that they were at the top of my list, since they were.) Paragraph divisions have also been removed.

TIPS : Pilih PBT atau IBT


Mau cari beasiswa apapun, TOEFL jelas diperlukan. Ada beberapa negara yang lebih mengutamakan IELTS, tapi sepertinya TOEFL tetap lebih umum.
Tes ini dibedakan menjadi 2 format: Paper Based TOEFL (PBT) dan Internet Based TOEFL (iBT). iBT merupakan tes bentuk terbaru. Peserta harus membaca dan mengerjakan soal langsung di depan komputer.

Beberapa orang merasa kalau iBT relatif lebih sulit dibanding PBT. Tantangan terbesar iBT karena tes ini lebih menguji kemampuan Inggris aktif, semua bagian tes langsung menguji kemampuan praktis peserta dalam berbahasa Inggris.
Ini bisa dilihat dari pembagian di iBT yang terdiri atas: Reading, ListeningSpeaking, dan Writing dengan total maksimal skor 120. Bagian reading dengan listening tentu bukan hal baru, soalnya di PBT juga ada. Bagian speaking sama writing ini yang jadi inovasi baru. Dari namanya sudah jelas, kemampuan menulis dan berbicara ikut diteskan di iBT. Untuk kita yang sebelumnya tidak biasa nulis apalagi ngomong pake bahasa Inggris, ini akan jadi tantangan tersendiri.
Sedang PBT adalah jenis tes TOEFL model lama. Pasti banyak diantara kita yang pernah mencoba ikut tes ini. PBT dibagi menjadi 3 bagian: Listening Comprehension, Structure and Written Expression, dan Vocabulary and Reading Comprehension. Skor tertinggi yang dapat diraih adalah 677.
Kalau sudah mengikuti TOEFL yang internasional, akan ditambahkan bagian keempat yaitu Test of Written English (TWE) dimana peserta diminta menulis karangan dalam bahasa Inggris yang nantinya akan dinilai dari skala 1 hingga 6. Tapi kabar baiknya, umumnya nilai TWE tidak dipersyaratkan langsung olehuniversitas. Seringnya mereka hanya mematok skor minimum untuk 3 bagian tes tanpa menyertakan TWE.
Karena tidak ada praktik ngomong dan nulis, untuk banyak peserta ini akan lebih memudahkan. Asal paham dan hafal bentuk-bentuk struktur kalimat untuk menjawab bagian structure and written expression ditambah punya kemampuan listening yang memadai skor tinggi bisa diraih.
Satu lagi kelebihan PBT, sebelum ikut tes sungguhan kita bisa try out dulu dengan ikut tes sejenis yang diselenggarakan lembaga-lembaga kursus bahasa Inggris. Selain biaya yang jauh lebih murah, dengan ikut try out peserta akhirnya bisa merasakan suasana tes sungguhan sekaligus mengukur sejauh mana kemampuan yang sudah dicapai. Sedang untuk iBT, saya belum pernah dengar ada lembaga yang memberikan try out untuk jenis tes ini.
Cuma kekurangan PBT, tes ini hanya ditawarkan 5-6 kali setahun. Kota yang menyelenggarakan tes pun lebih terbatas. Sedang iBT diadakan lebih sering dengan hampir semua kota besar di Indonesiamenyelenggarakannya. Hasil PBT pun akan keluar lebih lama dibanding iBT. Lebih jelasnya, silahkan cekdisini. Bagi yang sedang terburu-buru karena mengejar deadline, iBT akan jadi lebih masuk akal.
Jadi  mending pilih mana,  iBT atau PBT? Jawaban paling pas akhirnya kembali ke tiap individu. Dengan melihat kemampuan sekarang plus ketersediaan waktu, mana diantara kedua tes itu yang dirasa mampu dikerjakan dengan lebih percaya diri.

TIPS : Menaklukkan Paper Based TOEFL


kungfu Jurus Menaklukkan Paper Based TOEFLBuku pelajaran TOEFL yang paling luas pemakaiannya di Indonesia adalah dari Barron: How to Prepare for TOEFL. Seorang rekan dari lulusan sebuah sekolah di Bandung yang bekerja di Bappenas mampu mencapai nilai 620 dengan memakai  buku ini.
Bagaimana cara dia belajar? Ia menghafal mati pola-pola structure yang terdapat pada buku ini!

Buku itu sebetulnya disusun untuk orang yang sudah rada canggih Bahasa Inggris nya. Untuk jelasnya, silahkan Anda baca sendiri kata pengantarnya.
Buku Barron mengajar para pembacanya dengan memberikan puluhan pola-pola structure yang harus diketahui para pembaca. Dilanjutkan dengan contoh kalimat yang benar serta contoh kalimat yang salah tanpa penjelasan yang mendalam. Seandainya Anda sudah mempunyai dasar bahasa Inggris yang cukup bagus, buku dari Barron (dan juga beberapa buku TOEFL lainnya yang menggunakan pola pengajaran yang sama) cukup baik Anda pelajari karena pola-pola ini akan mengingatkan kembali pada hal-hal “remeh” yang Anda lupakan.
Sebaliknya, jika Anda tidak mempunyai dasar bahasa Inggris yang baik, ketika Anda membaca buku ini, kepala Anda akan terangguk -angguk: betapa mudahnya balajar TOEFL, kita hanya disuguhi pola-pola structure belaka. Akan tetapi, ketika Anda menginjak pola yang ke 30, kemungkinan besar Anda sudah melupakan pola 1 sampai dengan 10! Buku ini menurut saya, bersifat mengingatkan tapi kurang memberikan pengertian pada para pembacanya.
Jika Anda mempunyai TOEFL awal (tanpa belajar) sekitar 500, sebaiknya Anda memakai buku dari Cliffs: TOEFL Preparation Guide. Saya sendiri memakai  buku Cliffs. Seorang karyawati BDN tamatan sebuahperguruan tinggi Bandung, mampu mencapai nilai 643 dengan buku  Cliffs ini. Ketika saya tanya apa rahasianya, jawabnya: “Saya suka dan terbiasa membaca novel berbahasa Inggris sejak lama!”
Seorang lulusan STAN mampu mendapatkan nilai 667 (!) … karena ketika ia masih kecil ia sudah dibiasakan berbahasa Inggris. Hal yang sama juga terjadi pada seorang mahasiswa undergraduate bidang political science di University of Houston.
Jika dasar pengetahuan bahasa Inggris Anda kurang bagus (nilai TOEFL sekitar 400-an), sebaiknya Anda memakai buku berjudul Building Skill for TOEFL terbitan  Nelson atau Bina Rupa Aksara (khusus hak edar Indonesia). Di Indonesia, belilah sekaligus dengan kaset dan kunci bahasannya. Jika Anda membeli bukunya terlebih dahulu, belum tentu Anda dapat membeli kasetnya secara terpisah di kemudian hari.
Buku Preparation Course for the TOEFL terbitan Longman dengan pengarang Deborah Phillips cukup bagus juga untuk dipertimbangkan membelinya. Susunan buku ini mirip sekali dengan buku terbitan Binarupa Aksara. Sayangnya, buku Longman ini cukup sulit Anda temui di Indonesia.
Omong-omong,  kenapa sih saya menulis kitab pusaka ini? Saya melihat beberapa orang yang sudah belajar keras menghadapi TOEFL, akan tetapi TOEFL nya nggak bisa naik. Hal yang sama pernah terjadi pada saya! Saya pernah kursus TOEFL dan saya tidak mendapatkan hasil dari tempat kursus tersebut.
Tempat kursus tersebut, seperti lazimnya tempat kursus di Indonesia,  memakai buku Barron sebagai buku pegangan utamanya. Bukannya nilai saya naik, tapi nilai saya turun. Padahal, menurut saya, sayalah peserta kursus yang paling rajin sedunia! Kalau murid sudah rajin, tapi tidak bisa juga, satu atau beberapa kemungkinan dibawah ini dapat terjadi:
1. Muridnya bloon.
2. Gurunya kurang cerdas.
3. Metoda pengajaran sang guru tidak tepat.
4. Metoda belajar sang murid nggak benar.
Untuk kasus saya, saya menganggap no. 1 dan 2 tidak mungkin terjadi. Kemungkinannya adalah 3 & 4. Saya nggak mungkin mengubah no. 3 secara revolusioner demi kepentingan saya … siapa sih saya ini? He, he, he …  Karena itulah, saya berusaha menemukan sendiri no. 4: metoda belajar yang cepat dan cocok untuk saya.
Seorang guru pernah menjadi seorang murid. Akan tetapi, ketika ia menjadi guru, ia lupa melupakan cara berpikir seorang murid. Jadi, jangan heran jika banyak guru pintar yang tidak bisa mengajar.
Saya mempunyai banyak buku TOEFL. Setelah membandingkan isinya, akhirnya saya memutuskan untuk memakai buku Cliffs. Saya memakai buku Cliffs karena buku inilah yang memberikan pelajaran mengenai structure secara mendetail.
Saya tidak memakai buku dari Nelson/Binarupa Aksara karena, menurut saya, kita harus mengerjakan latihan bagian per bagian jika kita ingin menguasai structure melalui buku ini. Di lain pihak, kita tidak perlu mengerjakan latihan bagian per bagian jika kita ingin menguasai structure melalui buku Cliffs.
Walaupun demikian, bukan berarti latihan soal tidak penting… seorang pemain basket yang mahir, tidak cukup hanya dengan membaca buku teori saja. Metoda latihan saya akan Anda jumpai juga dalam kitab pusaka ini. Cara saya belajar dengan memakai buku Cliffs mudah-mudahan pas pula buat Anda.
Di halaman muka dari buku Cliffs, Anda dapat menemukan petunjuk pemakaian / cara belajar dengan memakai buku Cliffs. Akan tetapi, saya tidak memakainya karena metodanya nggak pas buat saya, … kurang cepat. Metoda belajar saya didasari atas tiga pemikiran: 1. Bagaimana menguasai structure/grammar secara cepat. 2. Bagaimana kita belajar dari kesalahan yang kita buat. 3. Berusaha mengerti daripada sekedar menghafal.
Nomer 3 penting buat saya karena:
1. Saya percaya, kita mempunyai daya ingat yang terbatas. Misalnya saat ini otak kita menyimpan 1.000 data (baca: 1.000 hafalan). Kita masukkan lagi 500 data. Belum tentu otak kita kemudian menyimpan 1.500 data.
Kenapa? Ada kemungkinan 200 atau 300 data yang sebelumnya kita simpan akan hilang. Jadi total data yang baru adalah 1.300 atau 1.200 saja.
2. Kalau kita berusaha mengerti, jika kita terlupa, dengan mudah kita akan dapat menggali pengertian/informasi yang sudah kita pelajari sebelumnya hanya dengan melihat kembali informasi tersebut sekilas saja. Lebih lanjut lagi, kita dapat menggali informasi yang kita lupakan dengan melihat dan mengorelasikannya dengan informasi lain.
Ada satu hal lagi yang perlu Anda catat : janganlah Anda minder ketika menghadapi seseorang yang mempunyai oral ability yang tinggi. Belum tentu ia mampu mencapai nilai  TOEFL yang tinggi.
Kenapa demikian? Karena ia belum tentu mempergunakan kaidah bahasa Inggris yang baku. Sebaliknya, orang yang memiliki writing ability yang baik, kemungkinan  besar ia mampu mendapatkan nilai TOEFL yang tinggi.
I.A. STRUCTURE AND WRITTEN EXPRESSION
Saya menekankan struktur (Section II  dari  TOEFL)  sebagai bagian yang paling penting dari dua bagian lainnya.  Section I, II, dan III berturut-turut terdiri dari 50, 40, dan 60 soal untuk short version.  Karena nilai maksimum per section hampir sama (berturut- turut: 68, 67, dan 67 menurut Cliffs), mudah dimengerti bahwa kesalahan pada satu soal pada Section II akan lebih besar pengaruhnya terhadap total nilai dibandingkan kesalahan pada section yang lain.
Mengenai pentingnya penguasaan grammar / structure, dapat juga diilustrasikan sbb: Jika  Anda tidak mengerti  macam-macam  bentuk conditional (if), Anda tidak akan dapat memberikan interpretasi yang benar ketika soal jenis ini muncul pada Section I atau Section III.
Bagaimana cara belajar struktur? Pertama, pelajari teori  struktur  bagian perbagian secara berurutan hingga mengerti. Tandai seluruh kata yang tidak Anda ketahui artinya. Terjemahkanlah setelah selesai per bab, jangan menerjemahkan per kata setiap saat Anda menjumpai kata yang sulit. Mohon dibedakan antara membaca untuk sekedar tahu dan membaca untuk belajar. Jika Anda membaca hanya sekedar untuk tahu, tentunya Anda tidak perlu tahu arti seluruh kata yang tidak Anda ketahui. Manfaat kerajinan Anda dalam menerjemahkan juga akan Anda rasakan ketika menghadapi Section III.
Exercise perbagian bisa ditinggalkan terlebih dahulu. Misalkan saja sekarang  Anda  sudah belajar mengenai noun sampai mengerti, kemudian melanjutkan ke  bab  selanjutnya, misalnya mengenai  pronoun. Waktu  Anda belajar  pronoun, ternyata pelajaran mengenai noun Anda lupa lagi: Cuek saja. Yang penting, sewaktu membaca bagian noun tersebut,  Anda sudah mengerti. Dengan cara ini, Anda hanya membutuhkan waktu 5 hari untuk mempelajari stuktur. Kalau lebih ngebut lagi, barangkali hanya butuh waktu 3 hari.
Selanjutnya, kerjakan TOEFL Model Test I Section II  saja. Setelah  selesai,  janganlah melihat explanatory answer terlebih dahulu.  Tapi, ceklah hanya dengan kunci jawabannya saja. Tandai jawaban mana yang benar dan mana yang salah.  Periksa  kembali pekerjaan Anda. Usahakan mengerti sendiri kenapa  jawaban  tersebut salah.
Jika belum mengerti juga, cobalah membuka kembali teori struktur  yang telah Anda pelajari  di muka. Disinilah enaknya kita memakai buku Cliffs: Pada setiap kunci jawabannya, terdapat juga angka yang merujuk pada nomer halaman dimana kita dapat menemukan teori untuk mengatasi soal yang bersangkutan. Jika Anda membaca ulang teori dari problem yang bersangkutan, tapi Anda belum mengerti juga, barulah  Anda dengan  terpaksa mempelajari bagian explanatory  answer.
Kalau sudah menyelesaikan Model Test I Section II, janganlah tergesa-gesa untuk berpindah ke bagian Listening (Section I) atau Vocabulary and Reading Comprehension (Section III), akan tetapi kerjakan segera TOEFL Model Test II Section II. Rasakan kemudahan dalam menjawabnya dibandingkan ketika pertama kali berlatih.
I.B. LISTENING
Biasanya,  orang  yang  nilainya  jatuh  pada   bagian   ini (Section I) memberikan alasan sebagai berikut: ” Saya tidak mengetahui arti kata yang diucapkan “.
Menurut saya, alasan ini adalah tidak tepat. Yang terjadi adalah: “Saya tidak tahu bunyi kata yang diucapkan”. Dengan kata lain: ” Saya gagal mengidentifikasi kata  apa  yang diucapkan. ”
Kenapa demikian? Jika Anda membaca (bukan mendengar) listening script dari Section I, maka saya yakin Anda akan mengetahui arti kata atau kalimat tersebut sekitar 95 – 100%. Masalahnya adalah: Anda tidak terbiasa mendengarkan orang bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.
Buku yang paling baik untuk mempelajari  bagian  ini  adalah Building Skill for TOEFL terbitan Nelson/Bina Rupa Aksara ataupun Preparation Course for TOEFL dari Longman.  Pada dua buah buku tersebut,  Anda dilatih setahap demi setahap,  khususnya  mengenai identifikasi suara.  Buku  dari  Barron  cukup  jelas  pula  dalam memberikan kemungkinan tipe soal yang muncul pada section ini, walaupun hanya secara  tertulis. Pada  akhirnya, buku apapun asalkan disertai kaset,  tidak akan menjadi masalah asalkan Anda mengetahui cara belajarnya.
Kalau Anda sudah di USA, bermanfaatkah televisi berbahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan listening kita? Ya! Akan tetapi, berlatih dengan kaset TOEFL akan jauh terasa manfaatnya. Kemampuan Anda dalam mengidentifikasi kalimat di televisi sebetulnya dibantu oleh gambar di televisi ataupun gerakan mulut pembicara. Dengan kata lain, “tidak murni” listening.
Tambahan lagi, kaset TOEFL selalu memberikan rangsangan berupa pertanyaan yang harus dijawab. Tidak demikian halnya dengan televisi. Usahakan mendapatkan nilai yang setinggi-tingginya dari bagian A dan B karena bagian C cukup panjang dan cukup sulit untuk dimengerti. Sewaktu Anda mendengarkan cerita di bagian C, usahakan untuk memikirkan struktur cerita. Hal ini sangat membantu Anda untuk mengerti cerita secara keseluruhan.
Selain itu juga, saya sama sekali tidak menyarankan Anda mempergunakan head phone dalam belajar. Kenapa demikian ? Di Indonesia, sewaktu ujian Anda tidak akan menemukan head phone barang satu biji pun!
Beginilah cara mempelajari Section I. Pertama, putar kaset berisi TOEFL Model Test I Section I. Kerjakan soal-soal pada Section I seperti lazimnya kita ujian TOEFL biasa. Setelah selesai, cocokkan dengan  kuncinya.  Jika  salah,  tandai jawaban mana yang benar. Kemudian, dengar kembali kaset tadi  dari awal  per  nomer soal tanpa melihat bagian Listening  Script terlebih dahulu. Ulangi kembali mendengarkannya jika  Anda belum dapat mengidentifikasi suara-suara  yang  diucapkan  dan belum mengetahui jawaban mana yang benar.
Pada tahap awal, di soal yang sulit, barangkali Anda perlu mengulanginya hingga 6 kali per  nomer soal sebelum dapat mengidentifikasikannya secara tepat. Jadi, Anda tidak mengulanginya sekaligus, tapi pernomer soal. Tentunya, lebih baik jika Anda memiliki tape player yang memungkinkan Anda untuk me rewind tanpa harus menyetop kasetnya terlebih dahulu.
Kemudian, jawablah pertanyaan yang diajukan. Setelah itu, ceklah kalimat yang Anda anggap tepat berdasarkan “pendengaran” Anda tadi dengan kalimat pada Listening Script. Jika sudah  mendengarkan  berulang-ulang tetapi Anda belum  juga mampu mengidentifikasi suara-suara  yang  diucapkan ataupun  belum mengetahui jawaban mana yang  benar,  barulah Anda dengan terpaksa membuka Listening Script dan memperhatikan hanya pada nomer soal itu saja. Buka  kamus  jika perlu.
Lakukan  hal ini hingga seluruh soal selesai. Waktu pertama  kali melakukannya,  Anda bisa menghabiskan waktu tidak kurang dari 3 jam untuk mengulang-ulang satu sisi kaset saja. Setelah itu akan berkurang drastis hingga 1 jam saja karena kemampuan Anda sudah meningkat.
Kalau Anda sudah melakukannya petunjuk  diatas  untuk TOEFL  Model Test I Section I, lanjutkan segera dengan mengerjakan TOEFL Model Test  II Section I. Rasakan kemudahannya dibanding ketika mengerjakan Test I dan  nikmatilah subscore yang lebih tinggi !
I.C. VOCABULARY AND READING COMPREHENSION
Jika saya menekankan Section II (Structure and Written Expression) sebagai konsentrasi belajar saya, maka saya menekankan Section III (Vocabulary and Reading Comprehension) sebagai tempat saya mencari nilai. Untuk bagian ini, terus terang saya tidak menemui kesulitan  sama sekali. Dua kali berturut-turut, nilai TOEFL saya untuk section ini adalah 67.
Cara belajarnya nggak aneh-aneh. Sering seringlah membuka kamus ketika membaca bacaan berbahasa Inggris. Kalau Anda mengetahui arti dari seluruh kata yang terdapat pada buku Barron atau Cliffs, Hal itu sudah Lebih dari pada cukup.
Akan tetapi, ada juga orang yang lebih suka menghafal sederet atau sekumpulan kata-kata yang tidak ketahuan ujung pangkalnya. Menurut saya, cara ini tidak efektif. Dengan cepat kita akan melupakannya lagi karena kita tidak mengetahui konteks pemakaian kalimat ini.
Lagipula, saya merasa kasihan pada diri saya jika saya harus banyak menghafal. Bagi saya, tulisan dalam artikel majalah, apalagi novel, lebih sulit untuk mengartikan kosa katanya jika dibandingkan dengan text book. Beberapa orang malahan berpendapat sebaliknya. Bagaimana menurut Anda sendiri?
Seorang teman menambah perbendaharaan kata dengan menulis kata- kata yang tidak diketahuinya dalam sepucuk kertas. Satu kertas untuk satu kata yang tidak diketahui. Selain menulis padanan kata, ia juga menulis turunan kata tersebut, misalnya bentuk adjective- nya. Ia menghafal kata-kata tersebut diwaktu senggang. Setiap orang memiliki metodanya sendiri-sendiri. Kalau Anda ingin meningkatkan vocabulary Anda secara sistimatis, buku yang terbaik adalah buku yang berjudul Word Smart dari Princeton Review.
I.D. BEBERAPA KIAT DALAM BELAJAR TOEFL
I.D.1. Kaset TOEFL yang sudah pernah Anda jawab soal-soalnya, jangan lupa untuk sering memutarnya; misalnya waktu Anda lagi membereskan kamar,  menjelang  tidur, ngelamunin pacar, dsb. Cara belajar ini adalah cara belajar paling malas yang pernah saya temukan!
Pokoknya, Anda hanya mendengar untuk membiasakan saraf telinga Anda saja. Terserah Anda hendak berpikir atau tidak. Kalau Anda ingin bepikir sedikit, coba pulalah untuk mengulang kalimat tersebut atau menjawab dalam hati.  Jadi,  yang namanya belajar itu nggak cuma di meja belajar saja.
Cukup menyedihkan melihat kenyataan bahwa teman-teman yang meminta kitab pusaka ini jarang sekali yang berniat untuk mempraktekkan cara belajar termalas ini. Padahal cara belajar ini sama sekali tidak memerlukan waktu khusus.
Jadi, masalahnya bukan gurunya yang salah, tetapi muridnya yang salah.
I.D.2. Usahakanlah untuk sering  mengarang  dalam  bahasa  Inggris. Cukup yang sederhana saja, misalnya: kegiatan Anda sehari-hari,  cita-cita, riwayat hidup, dsb.  Hal  ini sangat  membantu untuk  menguasai TOEFL, apalagi jika ada TWE (Test of Written English).
I.D.3. Walaupun Anda memiliki banyak buku TOEFL, untuk menghadapi Section II sebaiknya Anda hanya mempelajari 1 buah buku sebagai buku pegangan utama. Buku lain boleh Anda pakai, tapi hanya sebagai buku pendamping saja.
Kenapa demikian? Dalam kasus ini, bagi saya pribadi, mendalami seluruh isi suatu buku secara tidak sadar berarti juga mendalami: urutan penyajian buku itu, hal apa saja yang yang menjadi penekanan dari penulis, cara berpikir sang penulis, dan sebagainya. Jika saya mempelajari seluruh isi buku lainnya secara bersamaan, dapat dibayangkan betapa berat beban untuk meramunya.
I.D.4. Jangan pula dilupakan, buku Cliffs ataupun  buku  TOEFL lain  edisi terbaru sudah ada bagian TWE -nya. Di Shopping Centre kota Yogya, harga buku Cliffs hanya Rp 11.000 saja termasuk kaset – kasetnya. Di Toko Buku Gramedia Bandung harganya mencapai Rp. 23.000. Di TB Gunung Agung di Jln. Kwitang (dekat Proyek Senen), harganya mencapai Rp.28.000. Di perpustakaan yang besar, buku ini juga tersedia.
I.D.5. Saya juga punya buku + kaset TOEFL dari ETS. Cukup bermanfaat sebagai latihan, tapi tidak  bermanfaat sebagai buku  pedoman,  karena teori-teori nggak diberikan disini, langsung soal dan  penjelasan  jawaban. Dari jawaban dan penjelasan tersebut, khususnya pada bagian Understanding TOEFL kita bisa tahu filosofi para pembuat soal TOEFL. Cek,cek, cek, … (Filosofi itu apa sih ?!)
I.E. KIAT MEMILIH TEMPAT UJIAN TOEFL.
Selain letak dan jarak, satu faktor mutlak yang harus Anda pertimbangkan, dalam memilih tempat ujian TOEFL adalah: seberapa baik sound system tempat itu. Tempat test terbaik di Jakarta yang pernah saya ketahui dari seorang teman  adalah Jakarta International School dekat Pondok Indah. Sound system yang apik dan ruangan yang cukup kecil (ukuran satu  ruang kelas sekolah), membuat suara cukup jelas di dengar.
Saya sendiri pernah tes di Gedung Manggala Wana Bakti (Departemen Kehutanan), Slipi, Jakarta. Ruangan sangat besar (muat untuk 400 orang), demikian pula dengan speaker yang sebesar gajah; hasilnya membuat suara bergema. Jika Anda terlanjur mendapat tempat tes ini, janganlah kuatir ! Agar Anda terbiasa dengan kondisi sound system disana, ketika Anda belajar Section I, keraskan nada bas tape Anda !
Jika Anda tes di Uninus Bandung, konon kabarnya, supaya terbiasa, Anda harus belajar TOEFL dalam suasana yang ribut ! Jika Anda tes di PPIA Jakarta, siapkanlah pakaian hangat. AC  – nya nggak bisa dikecilkan ! Karena itu, jika Anda ingin mendapatkan tempat tes yang baik, bergegaslah mendaftar!